Ipul, Begitu Nama Panggilannya

Ipul, begitu nama panggilannya. Ia salah satu lelaki dalam hidup saya. Seorang sahabat baik. Saya mengenalnya tujuh tahun lalu. Waktu itu, kami sekelas di Interstudi. Jujur saja, saya tidak terlalu memperhatikannya kala itu. Habis, ganteng juga nggak. Pintar apalagi. Tiga kata untuk menggambarkan kesan pertama saya: gondrong, hitam, tengil. Hehehe….

Saya ingat, ia duduk di belakang saya. Hampir setiap waktu. Saya, yang demen ngobrol, memang kadang membalikkan badan untuk sekedar bercakap-cakap dengan teman-teman yang duduk di belakang saya, termasuk si Ipul. Belakangan, ia sering bilang, “Ba, lo dulu naksir gue ya? Lo kan sukanya balik ama nengok-nengok ke belakang mulu!” Huahahaha…, naksir? Sori ya, Pul. Nama lo aja gue dulu nggak inget. =D Continue reading

Causa Prima Si Sandal Jepit

Pernah nyeker? Saya pernah. Semalam. Gara-gara Rika.

Kemarin sore, tiba-tiba saya berniat mengambil tiket Teater Koma, yang sudah sejak dua hari sebelumnya saya pesan, di TIM. Malas pergi sendiri, saya lalu menelepon si sahabat-sejiwa-teman-seperjuangan-tiap-kali-luntang-lantung-nggak-jelas. The one and only: Rika. Ketika saya telepon, dia sedang beredar di Sawo—saya sendiri sudah siap tempur di stasiun Pasar Minggu. Rika langsung bilang, “Iya deh, gue temenin,” padahal saya belum ngajak dia.

Dari awal, seharusnya saya sudah ‘ngeh kalau perjalanan ini bakal jadi another weird trip—sayang, saya suka lalai memerhatikan tanda-tanda alam. >_< Continue reading

Superman’s Birthday

Hari ini giliran adik saya yang ulangtahun. Lahir tahun 1988, berarti ia sekarang sudah 19 tahun. Did I say 19? Oh, benarkah? Kalau begitu, ia sudah dewasa, dong!?

*mengingatingatsepertiapasayaketikaberusia19tahun*

Iya, benar. Sudah ‘tua.’ Sudah besar, kalau tidak bisa dibilang dewasa.

Ah, padahal di mata saya, ia masih bocah empat tahun yang menggemaskan.

Bocah yang selalu mengikuti ke mana pun saya pergi. Waktu itu, saya sebel banget, masak mau main diikuti melulu. Saya kan butuh privasi. Hehehe…. Saya ke sawah, ia ikut. Saya nyari ikan, ia turut. Saya manjat pohon jambu, ia menunggu di bawah—ia masih terlalu kecil untuk ikut memanjat. Paling-paling ia duduk di bawah pohon, menanti jambu-jambu yang saya lemparkan dari atas. Ia teman saya main gundu, main gambaran, main karet (pernah main karet pakai ikatpinggang—coba, ke mana otak kami waktu itu?—hasilnya: kaki saya tersangkut dan dagu saya sobek, masih berbekas sampai sekarang). Teman ngobrol kalau ditinggal berdua di rumah. Continue reading

Mind the Brand, You Brand Minded!

(Peringatan: Saya hanya ingin meracau, jadi jangan berharap menemukan esai cerdas tentang kapitalisme di tulisan ini) ^_^

barang palsu? ^_^

 

Di Indonesia banyak banget barang palsu dijual. Semua orang juga tahu. Tapi, pernah nggak, merhatiin barang-barang tiruan itu? Ada yang dibuat benar-benar mirip aslinya, biasanya sih disebut ‘second best’–halah, tiruan mah, tiruan aja. ^_^ Ada juga yang memang cuma dimirip-miripin. Bukan cuma barangnya, tapi juga merk-nya. Continue reading

Salah Sebut ala Ibu

Ibu sulit menghafal nama. Atau suka salah menyebutkan sesuatu yang agak asing di telinganya. Hal ini terkadang menimbulkan salah paham, yang lebih sering berakhir dengan tawa.

Pernah, saya bertemu seorang teman lama di angkot. Setelah ngobrol-ke-sana-kemari-basa-basi-tanya-kabar, ia bertanya soal kuliah saya. Kebetulan, waktu itu saya baru lulus kuliah. Anehnya, ia mengerutkan kening ketika saya bilang, saya lulusan sastra.

“Kenapa?” tanya saya, agak defensif. Maklum, sebagai anak sastra saya sudah kenyang dengan pandangan-pandangan ‘melecehkan.’ Continue reading